Sang Bapak Pembangunan itu telah berpulang ke pangkuan YMK, setelah proses pengobatan yang maraton selama kurang lebih 24 hari, akhirnya pada tanggal 27 Januari 2008, hari Minggu siang pukul 13.10 menit beliau pun harus menutup usia…”Sungguh adalah YMK yang tahu apa yang terbaik untukmu!”
Tokoh Kontroversial ini, memang luar biasa ! begitu banyak penghargaan atas jasa-jasanya didalam maupun luar negeri. Belum lagi posisi-posisi utama yang pernah didudukinya, dari Jenderal besar bintang 5, Presiden ke 2 NKRI, Ketua gerakan Non-Blok, Penggagas utama organisasi ASEAN dan banyak lagi…
Lantas, mungkin yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa seorang pemimpin besar dengan jasa besar seperti beliau masih harus mengalami status yang kontroversial dan banyak mengundang polemik ?!…
Menurut peninjauan penulis selama ini, hal diatas banyak diakibatkan pola dan sketsa arah kepemimpinan beliau yang sangat berfokus pada pembangunan kesejahteraan rakyat dan menomor sekiankan prihal demokrasi dan hak-hak masyarakat dalam kebebasan berekspresi.
Ya ! Strategi ini dalam perjalanannya banyak terbentur dengan segolongan masyarakat, ya tentunya masyarakat yang saya maksud disini adalah masyarakat intelektual yang suka beropini dan mengkritik berbagai hal yan tidak sesuai dengan pola pikir, pemahaman dan ekspresi mereka. Sedangkan masyarakat lain yang lebih memposisikan dirinya dalam sebutan wong cilik, sama sekali tidak banyak terbentur dengan kebijakan pemerintahan Pak Harto !
Apa sebab?, hal ini dikarenakan dalam upayanya menciptakan pembangunan yang bertarget dan stabil serta berkesinambungan beliau sangat merasa perlu untuk mengurangi berbagai kepentingan yang banyak ditimbulkan lewat jalur partai-partai politik, opini media massa, dan berbagai bentuk lain dari wadah yang banyak digunakan sekelompok orang dalam menggelontorkan aspirasi dan kepentingannya.
Ya ! Untuk menciptakan stabilitas ini memang ada harga yang harus dibayar ! Fokus utama beliau adalah pembangunan kesejaheraan rakyat yang tercantum dalam program PELITA dan GBHN pemerintahan beliau…hingga berbagai hal yang akan menciptakan instabilitas pembangunan yang sedang berproses tentu harus dieliminir dan kalau bisa dibungkam sebelum “keluar dari sarangnya…”
Kombinasi watak seorang berdarah Jawa, Petani dan Militer menjadikan pak Harto seperti apa yang kita lihat…dan saya pribadi melihatnya sebagai bentuk kesungguhan dan konsistensi beliau yang sangat luar biasa…!!
Semenjak awal karirnya, beliau sudah sangat memahami bahwa ada harga yang harus dibayar untuk meraih tujuan yang diinginkan, maka sebagai seorang murid yang ingin belajar dari orang besar seperti beliau, sadarilah konsep ini… “Saat anda memiliki suatu keinginan, maka tidak ada yang lebih penting untuk dilakukan selain membayar harganya !”
Pak Harto sudah mencontohkan praktek dari konsep ini…sudahkah anda memahaminya ?!
Selamat Jalan Pak Harto ! , segala pengorbanan-mu tuk negeri Indonesia ini hanyalah Yang Maha Kuasa yang sanggup membalasnya…kami hanya anak-anak kecil yang kurang pandai melihat secara bijak maka biarlah Dia Yang Maha Bijak yang akan mengadili dan memperbaiki citramu dengan kami sebagai wasilahnya…Amin !!!
Kalibata, 28 Januari 2008 “Di suatu sore menjelang Maghrib”



